Nagari Halaban di Kecamatan Lareh Sago Halaban dikenal dengan suasana sejuk yang langsung terasa sejak memasuki kawasan lereng Gunuang Sago. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, wilayah ini masih diselimuti kabut dan udara dingin. Kondisi ini wajar karena Halaban berada pada ketinggian 400–1.000 meter di atas permukaan laut serta berada di perbatasan Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Tanah Datar.
Nagari Halaban: Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk
Nagari Halaban memiliki luas sekitar 63 km² dan berjarak 28 km dari ibu kota kabupaten. Wilayah ini berbatasan dengan Nagari Ampalu dan Kabupaten Sijunjung di utara, Gunuang Sago di barat, Kabupaten Tanah Datar di selatan, serta Nagari Tanjung Gadang di timur.
Data terakhir mencatat penduduk Halaban berjumlah 4.956 jiwa dengan 1.289 KK. Sekitar 25,7% warganya bekerja sebagai petani dan peternak, 9,6% sebagai pengrajin, 2,3% di bidang pertukangan, 1% pedagang, serta masing-masing 0,5% PNS dan pensiunan. Sisanya merupakan pelajar, mahasiswa, dan pengangguran.
Nagari ini terbagi menjadi delapan jorong: Atas Laban, Aiea Baba, Kabun, Lompek, Alang Laweh, Padang Tangah, Lambuak, dan Kapalo Koto.
Potensi Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan yang Melimpah
Halaban memiliki areal persawahan seluas 616 hektare dan lahan palawija 306 hektare. Sektor perkebunan mencakup sekitar 600 hektare, yang terdiri dari 147 hektare kebun gambir, 79 hektare kakao, 355 hektare karet, dan 19 hektare kelapa.
Di sektor peternakan terdapat 815 ekor sapi potong dan sekitar 50.000 ekor ayam potong, dengan populasi ayam terbesar berada di Jorong Lompek. Halaban juga memiliki banyak kolam ikan yang mendukung kebutuhan pangan lokal.
Potensi Tambang: Calcium Menunggu Investor
Selain pertanian dan peternakan, Halaban juga menyimpan potensi pertambangan calcium. Dari total potensi sekitar 100 hektare, baru 10 hektare yang tergarap. “Sebanyak 80 hektare lainnya masih menunggu investor,” kata Pjs Wali Nagari Halaban, Asdi.
Kaya Kesenian Tradisional dan Sentra Songket
Nagari Halaban memiliki kekayaan seni budaya seperti talempong, randai, pencak silat, dan saluang. Halaban juga memiliki peran dalam sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Salah satu identitas kuat nagari ini adalah tenun songket. Hampir seluruh perempuan, mulai dari ibu rumah tangga hingga remaja puteri, menjadi perajin songket secara tradisional. Namun para perajin masih bergantung pada pihak luar dalam penyediaan bahan baku dan pemasaran, sehingga memerlukan dukungan pemerintah daerah.
Sarana Pendidikan dan Ibadah yang Memadai
Nagari Halaban memiliki satu TK, lima SD, satu SMP, dan satu MTsN. Di bidang keagamaan, terdapat 32 unit masjid dan mushalla. Pelayanan kesehatan didukung satu Puskesmas serta 11 Polindes dan Posyandu.
Permasalahan yang Dihadapi Warga Halaban
Menurut Pjs Wali Nagari Asdi, sektor pertanian masih menghadapi persoalan serius, terutama ketersediaan pupuk dan irigasi yang belum optimal. Kondisi ini membuat hasil panen sulit mencapai target. Pada sektor perkebunan, pekebun karet mengeluhkan rendahnya produksi dan harga jual. Sementara petani gambir terkendala modal untuk memperluas areal.
Pembangunan Nagari: Kantor Baru dan Visi Jangka Panjang
Pemerintah Nagari Halaban memiliki visi membangun masyarakat yang makmur dan berakhlak mulia. Empat misi disusun untuk mencapainya, yaitu meningkatkan SDM, menggali potensi alam, membangun sarana prasarana ekonomi, serta memberdayakan seluruh elemen masyarakat.
Saat ini nagari tengah membangun kantor wali nagari baru dua lantai berarsitektur bagonjong. Pembangunan sudah terealisasi senilai Rp225 juta, berasal dari DAK nagari tahun 2014 sebesar Rp73 juta serta swadaya masyarakat dan bantuan perusahaan lokal.
Asal Usul dan Sejarah Nama Halaban
Sejarah Nagari Halaban berawal dari nenek moyang yang datang dari Nagari Limo Kaum, Pariangan Padang Panjang pada abad ke-7. Mereka berpindah dari Koto Lalang menuju berbagai kawasan hingga menetap di Koto Lambuak Tuo dan membuka permukiman seperti Dusun Lareh Nan Panjang, Lompek, dan Kabun.
Nama “Halaban” diyakini berasal dari kata halal (baik/boleh) dan laban (susu). Nama ini muncul setelah utusan Syehk Bantan, Pakiah Badangkiang, melihat Nenek Juaro memerah susu sapi dan berkata “halal laban”.
Saat ini Halaban memiliki 40 penghulu, terdiri dari 11 penghulu Pesukuan Melayu, 11 Pesukuan Piliang, 10 Pesukuan Bodi, dan 8 Pesukuan Mandailing.





